Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
DEDIKASI PARAMEDIS YANG SANGAT DIDAMBAKAN
About Sosial
Oleh. Djamilatul Laila
Perjalanan Seorang Siswa Perawat
Untuk menjadi seorang tenaga perawat (Para Medis), Pada zaman dahulu harus masuk ke sekolah perawatan, yang diterima cukup berijazah Minimal dari SLTP atau yang sederajat. Pendidikan awal tahun, selain terdiri dari pelajaran dibangku sekolah, siswa perawat diwajibkan secara langsung belajar Ilmu Keperawatan diRumah Sakit. Seorang siswa diajarkan bagaimana membersihkan tempat tidur pasien (Verbet) tiap hari, membersihkan meja kursi pasien (Sopen) bahkan mengepel ruangan pasien. Hal itu dilakukan selain mempraktekkan teori, juga siswa diharuskan mencari pengalaman diRumah Sakit tersebut. Semua ini tidak hanya disekolah keperawatan negeri (seperti di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Karang Menjangan), tetapi juga disekolah keperawatan swasta yang lain. Setiap sekolah perawat bekerjasama dengan Rumah Sakit terdekat, dan Rumah Sakit tersebut memang merupakan Rumah Sakit pendidikan yang biasanya untuk tempat praktek siswa perawat maupun mahasiswa kedokteran. Siswa Perawat merasa enjoy saja melakukan hal itu karena seniornya (Perawat) yang bertugas dirumah sakit juga melakukan Cleaning Service bersama-sama. Bahkan seorang Suster kepala ruangan yang zaman dulu sangat disegani oleh sejawatnya maupun oleh para dokter, selalu ikut serta menangani kebersihan ruangan secara total, mulai menyapu, mengepel bahkan membersihkan kamar mandi maupun WC. Serta ada budaya bongkar setiap hari jum’at dan ini hampir disemua rumah sakit membersihkan semua ruangan dan peralatan sebersih-bersihnya. Hanya membersihkan halaman Rumah Sakit saja yang dikerjakan oleh tukang sapu.
Pada tahap berikutnya siswa perawat mempraktekkan teori yang lain. Mulai dari memandikan pasien, menyuapi pasien, meminumkan obat, menginfus, injeksi, memeriksa nadi, tensi secara rutin, perawatan luka, Darem Buis, heachting (menjahit luka), dsb. Juga menolong persalinan (bagi seorang siswa bidan). Dan itu dilakukan secara terus menerus selama siswa tersebut menjalani pendidikan sekitar 3-4 tahun. Semua pengabdi tersebut tidak mengharap dapat imbalan, karena memang siswa tetap membayar uang sekolah & asrama, semua praktek tersebut diawasi dan secara berkala mendapatkan nilai dari perawat senior, di Rumah Sakit siswa perawat belajar membuat laporan keadaan pasien setiap hari, mengobservasi semua keadaan pasien dan dilaporkan ke Perawat jaga atau dokter jaga. dan dikemudian hari, semua praktek yang dikerjakan akan diterapkan pada waktu seorang siswa perawat sudah lulus dan menjadi perawat yang sebenarnya yang dinas dirumah sakit.
Perubahan Paradigma
Sejak era 90-an, ada perubahan sistem, hampir semua Rumah Sakit memberdayakan tenaga paramedis untuk khusus menangani urusan medis. Semua urusan cleaning service mulai dikerjakan tenaga honoris, bahkan Rumah Sakit swasta, urusan cleaning service dikontrakkan / ditenderkan pada perusahaan jasa clening service. Disinilah mulainya perubahan paradigma lama & paradigma baru. Untuk menjadi seorang perawat (tenaga paramedis) sekarang minimal ijasah SLTA, disini seorang calon perawat bukanlah disebut sebagai siswa perawat, tetapi status mereka adalah mahasiswa keperawatan atau mahasiswa kebidanan. Kalau era 60-80an seseorang akan memasuki sekolah keperawatan, sepertinya sudah harus siap untuk menjadi seorang pelayan kesehatan, selain juga memang untuk bekerja. Tetapi untuk tahun-tahun belakangan untuk menjadi seorang perawat, yang menjadi tujuan utama adalah untuk mencari pekerjaan. Karena memang begitu hebatnya persaingan kerja, begitu banyaknya pengangguran. Hal ini ternyata memang berdampak besar pada dedikasi seorang tenaga para medis / perawat. Hal ini tidak dipungkiri oleh para dokter yang menjadi dosen / pengajar mereka dan khususnya para dokter yang sudah senior sangat merasakan perubahan paradigma ini. Padahal teori dan praktek yang diberikan pada waktu menjadi mahasiswa perawat tidak berbeda dengan siswa perawat jaman dahulu. Namun mengapa setelah lulus dan menjadi perawat mereka banyak yang mengabaikan tugas-tugas tersebut, sekolah diacuhkan / diabaikan saja.
Didedikasikan untuk sebuah pengabdian
Flarent Night Tinggil adalah sosok panutan dunia perawatan. Bagaimana seorang perawat pada jaman dahulu mengabdikan dirinya ditengah-tengah berkecamuknya peperangan. Bagaimana seorang perawat hanya dengan penerangan lampu teplok / lilin membantu menangani orang-orang yang tidak berdaya dengan tubuh penuh luka. Disinilah peran penting seorang tenaga para medis. Dedikasi pengabdian yang tulus dengan hati nurani yang ikhlas serta seulas senyum yang ikhlas dari seorang perawat bisa memberikan secercah harapan kesembuhan untuk seorang pasien. Memang seorang tenaga paramedis bukanlah seorang dokter, tetapi dia merupakan ujung tombak keberhasilan keperawatan. Yang mendampingi seorang pasien yang sedang sakaratul maut adalah seorang perawat, yang membantunya memasang oxygen adalah perawat dan yang membimbing dengan membaca kalimat tauhid, sehingga meninggal dalam pada keadaan husnul khotimah juga seorang perawat. Begitu mulia dan begitu besar artinya peranan seorang perawat, yang balasan keikhlasannya adalah disisi Allah SWT
Kadang penulis membayangkan bagaimana disiplinnya orang-orang Belanda dahulu menerapkan ilmu keperawatan. Banyak Rumah Sakit peninggalan Belanda yang sampai sekarang masih menerapkan ilmu keperawatan dengan konsisten. Beberapa Rumah Sakit juga di Kota Malang kebanyakan masih menerapkan semua ilmu tersebut kepada pasiennya sampai sekarang.
Beberapa Rumah Sakit Besar di Surabaya pun masih menerapkan hal tersebut. Seorang suster berseragam putih bersih masuk kamar pasien dengan tersenyum, lalu menyapa pasien satu persatu ketika operan (pergantian tugas /shift dari dinas pagi ke dinas sore ke dinas malam). Semua perawat jaga bersama perawat yang akan menggantikannya menyerahkan satu persatu pasien yang dirawat mencocokkan data dibuku laporan dengan dokternya siapa, apa yang dilakukan terhadap pasien tadi dan sebagainya.
Setiap pasien rawat inap mendapatkan hak untuk dimandikan kecuali pasien yang masih bisa mandi sendiri atau keluarganya memang meminta untuk melakukanya sendiri. Saatnya minum obat pasien dibawakan dan diminumkan obatnya. Setiap pagi tempat tidur dibersihkan kembali, meja dilap. Pengontrolan cairan infus dilakukan secara intensif, berapa tetes per menit sesuai perintah Dokter, tidak sampai menunggu pasien yang laporan, bahwa cairan sudah habis, apalagi sampai kehabisan. Kalaupun perawat kebetulan dinas atau jaga malam, bisa dipastikan perawat ada ditempat jaganya kecuali pasien-pasien yang dirawat hanya sedikit atau tidak gawat, kalaupun mengantuk bisa tidur bergantian, tidak sampai ruang jaga kosong dari seorang perawat yang memang terjaga ( tidak tidur ). Dedikasi itu masih terasa di Rumah Sakit-Rumah Sakit tersebut. Tetapi untuk saat ini, pelayanan keperawatan secara menyeluruh seperti itu sering terabaikan. Padahal sentuhan-sentuhan kecil itulah yang menjadi dambaan para pasien untuk dapat mempercepat penyembuhannya dan juga mendapatkan rasa kenyamanan.Ketika dia menjalani rawat inap di rumah sakit.
Contoh Kasus
Ketika menjenguk teman di sebuah RSUD, keadaan pasien dengan deabitus militus (kencing manis), kondisi gula drop (38 ml yang normalnya I20 ml) infusnya tidak menetes karena posisi pasien tidak mau terlentang, keadan fisik shock, tidak bisa bicara, lemas dan mata sayu. Ketika keluarganya kita tanya bagaimana ini? Infusnya kok tidak menetes? Kata perawat tidak apa-apa. Kita lantas minta tolong agar infus dibetulkan, jawab perawat: “Tidak apa-apa”. Lho, infus tidak menetes kok tidak apa-apa, akhirnya perawat dengan muka monyong mau membetulkan juga. Setelah selesai dibetulkan infusnya dan cairan menetes lagi, dalam waktu hanya I5 menit digrojok cairan, pasien langsung sadar, bisa tersenyum, bahkan bisa bicara, wajah langsung tampak hidup. Padahal si pasien dari kalangan berpendidikan, bagaimana dengan pasien miskin yang tidak mengerti apa-apa?, juga bagi pasien yang menggunakan kartu GAKIN ? Dalam hal ini nyawalah taruhannya.
Contoh lain
Disebuah Rumah Sakit swasta ketika seorang guru SMA mengantar anak sekolah yang baru kecelakaan keadaanya kritis. Ketika minta tolong untuk segera dibantu ditangani karena mobil yang mengantar adalah mobil pinjaman, ternyata perawat hanya mengatakan: “Bawa langsung ke Rumah Sakit Kota”. Padahal pertolongan pertama seharusnya dilakukan. Pertama diinfus atau lukanya dilihat, kalau mengalami pendarahan bisa dihentikan sementara atau perlu diberi O2, minimal pasien bisa diberikan pertolongan sementara, baru kalau tidak mampu dipersiapkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar.
Contoh lain
Sebuah Rumah Sakit swasta yang baru dibuka ditingkat kabupaten, ada pasien seorang anak sakit typus, ketika ibunya terbangun dan melihat inpus ditangan anaknya terlepas dengan darah membasahi baju, celana, selimut, karena darah si anak keluar melalui jarum infus, keadaan sambungannya terlepas anak dalam keadaan panas tinggi, ditambah darahnya yang keluar kurang lebih 0,5 liter, keadaanya makin membahayakannya, padahal disitu pasien penuh, hampir 80% pasien dalam keadaan diinpus, banyak pasien yang cairan infusnya habis, tapi perawat semua tidur lelap. Hal itu tentu takkan terjadi bila mereka menyadari tanggungjawab bahwa mereka itu jaga malam sudah seharusnya untuk siaga, kalau waktu dirumah untuk tidur agar pasiennya tidak terlantar di waktu malam.
Contoh lain
“Ayo terus mengejan, yah........... nafas dulu”, itulah bahasa-bahasa yang sering terdengar dari seorang bidan yang membantu proses persalinan, sambil di elus punggungnya. Tapi zaman sekarang sering seorang wanita yang mau melahirkan terpaksa menyepat alat-alat persalinan, yang disiapkan dibawahnya. Karena bayi sudah mau keluar, tapi bidanya belum juga mendampingi di sisinya. Krompyang....... suara alat-alat yang berjatuhan ke lantai........ Wallahu alam bisawab, itulah kondisi pelayanan kesehatan saat ini.
Dari 4 Contoh diatas adalah betul-betul pengalaman nyata. Walau tidak semua perawat lulusan akademi kurang konsisten terhadap tugas-tugas keperawatannya, tetapi dapat dibayangkan, bila masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik justru dirugikan oleh keteledoran beberapa oknum. Memang manusia diwajibkan untuk berusaha, adapun hidup mati seseorang ditangan Allah SWT. Mungkin akan lebih banyak nyawa yang tertolong, bila tugas keperawatan dilaksanakan dengan penuh dedikasi. Wallahu allam bisawab.
Tulisan ini di persembahkan untuk seluruh perawat paramedis yang penuh tanggungjawab dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam pekerjaannya. Di pundakmu terletak sebuah harapan hidup seseorang dan pengabdianmu yang tulus ikhlas hanya Allah SWT yang akan membalasnya, yaitu surga Jannatun Naim.
Penulis:
Mantan Bidan,
Pengurus Majelis Kesehatan Muhamadiyah
Sumberrejo-Bojonegoro Jawa Timur
Perjalanan Seorang Siswa PerawatUntuk menjadi seorang tenaga perawat (Para Medis), Pada zaman dahulu harus masuk ke sekolah perawatan, yang diterima cukup berijazah Minimal dari SLTP atau yang sederajat. Pendidikan awal tahun, selain terdiri dari pelajaran dibangku sekolah, siswa perawat diwajibkan secara langsung belajar Ilmu Keperawatan diRumah Sakit. Seorang siswa diajarkan bagaimana membersihkan tempat tidur pasien (Verbet) tiap hari, membersihkan meja kursi pasien (Sopen) bahkan mengepel ruangan pasien. Hal itu dilakukan selain mempraktekkan teori, juga siswa diharuskan mencari pengalaman diRumah Sakit tersebut. Semua ini tidak hanya disekolah keperawatan negeri (seperti di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Karang Menjangan), tetapi juga disekolah keperawatan swasta yang lain. Setiap sekolah perawat bekerjasama dengan Rumah Sakit terdekat, dan Rumah Sakit tersebut memang merupakan Rumah Sakit pendidikan yang biasanya untuk tempat praktek siswa perawat maupun mahasiswa kedokteran. Siswa Perawat merasa enjoy saja melakukan hal itu karena seniornya (Perawat) yang bertugas dirumah sakit juga melakukan Cleaning Service bersama-sama. Bahkan seorang Suster kepala ruangan yang zaman dulu sangat disegani oleh sejawatnya maupun oleh para dokter, selalu ikut serta menangani kebersihan ruangan secara total, mulai menyapu, mengepel bahkan membersihkan kamar mandi maupun WC. Serta ada budaya bongkar setiap hari jum’at dan ini hampir disemua rumah sakit membersihkan semua ruangan dan peralatan sebersih-bersihnya. Hanya membersihkan halaman Rumah Sakit saja yang dikerjakan oleh tukang sapu.
Pada tahap berikutnya siswa perawat mempraktekkan teori yang lain. Mulai dari memandikan pasien, menyuapi pasien, meminumkan obat, menginfus, injeksi, memeriksa nadi, tensi secara rutin, perawatan luka, Darem Buis, heachting (menjahit luka), dsb. Juga menolong persalinan (bagi seorang siswa bidan). Dan itu dilakukan secara terus menerus selama siswa tersebut menjalani pendidikan sekitar 3-4 tahun. Semua pengabdi tersebut tidak mengharap dapat imbalan, karena memang siswa tetap membayar uang sekolah & asrama, semua praktek tersebut diawasi dan secara berkala mendapatkan nilai dari perawat senior, di Rumah Sakit siswa perawat belajar membuat laporan keadaan pasien setiap hari, mengobservasi semua keadaan pasien dan dilaporkan ke Perawat jaga atau dokter jaga. dan dikemudian hari, semua praktek yang dikerjakan akan diterapkan pada waktu seorang siswa perawat sudah lulus dan menjadi perawat yang sebenarnya yang dinas dirumah sakit.
Perubahan Paradigma
Sejak era 90-an, ada perubahan sistem, hampir semua Rumah Sakit memberdayakan tenaga paramedis untuk khusus menangani urusan medis. Semua urusan cleaning service mulai dikerjakan tenaga honoris, bahkan Rumah Sakit swasta, urusan cleaning service dikontrakkan / ditenderkan pada perusahaan jasa clening service. Disinilah mulainya perubahan paradigma lama & paradigma baru. Untuk menjadi seorang perawat (tenaga paramedis) sekarang minimal ijasah SLTA, disini seorang calon perawat bukanlah disebut sebagai siswa perawat, tetapi status mereka adalah mahasiswa keperawatan atau mahasiswa kebidanan. Kalau era 60-80an seseorang akan memasuki sekolah keperawatan, sepertinya sudah harus siap untuk menjadi seorang pelayan kesehatan, selain juga memang untuk bekerja. Tetapi untuk tahun-tahun belakangan untuk menjadi seorang perawat, yang menjadi tujuan utama adalah untuk mencari pekerjaan. Karena memang begitu hebatnya persaingan kerja, begitu banyaknya pengangguran. Hal ini ternyata memang berdampak besar pada dedikasi seorang tenaga para medis / perawat. Hal ini tidak dipungkiri oleh para dokter yang menjadi dosen / pengajar mereka dan khususnya para dokter yang sudah senior sangat merasakan perubahan paradigma ini. Padahal teori dan praktek yang diberikan pada waktu menjadi mahasiswa perawat tidak berbeda dengan siswa perawat jaman dahulu. Namun mengapa setelah lulus dan menjadi perawat mereka banyak yang mengabaikan tugas-tugas tersebut, sekolah diacuhkan / diabaikan saja.
Didedikasikan untuk sebuah pengabdian
Flarent Night Tinggil adalah sosok panutan dunia perawatan. Bagaimana seorang perawat pada jaman dahulu mengabdikan dirinya ditengah-tengah berkecamuknya peperangan. Bagaimana seorang perawat hanya dengan penerangan lampu teplok / lilin membantu menangani orang-orang yang tidak berdaya dengan tubuh penuh luka. Disinilah peran penting seorang tenaga para medis. Dedikasi pengabdian yang tulus dengan hati nurani yang ikhlas serta seulas senyum yang ikhlas dari seorang perawat bisa memberikan secercah harapan kesembuhan untuk seorang pasien. Memang seorang tenaga paramedis bukanlah seorang dokter, tetapi dia merupakan ujung tombak keberhasilan keperawatan. Yang mendampingi seorang pasien yang sedang sakaratul maut adalah seorang perawat, yang membantunya memasang oxygen adalah perawat dan yang membimbing dengan membaca kalimat tauhid, sehingga meninggal dalam pada keadaan husnul khotimah juga seorang perawat. Begitu mulia dan begitu besar artinya peranan seorang perawat, yang balasan keikhlasannya adalah disisi Allah SWT
Kadang penulis membayangkan bagaimana disiplinnya orang-orang Belanda dahulu menerapkan ilmu keperawatan. Banyak Rumah Sakit peninggalan Belanda yang sampai sekarang masih menerapkan ilmu keperawatan dengan konsisten. Beberapa Rumah Sakit juga di Kota Malang kebanyakan masih menerapkan semua ilmu tersebut kepada pasiennya sampai sekarang.
Beberapa Rumah Sakit Besar di Surabaya pun masih menerapkan hal tersebut. Seorang suster berseragam putih bersih masuk kamar pasien dengan tersenyum, lalu menyapa pasien satu persatu ketika operan (pergantian tugas /shift dari dinas pagi ke dinas sore ke dinas malam). Semua perawat jaga bersama perawat yang akan menggantikannya menyerahkan satu persatu pasien yang dirawat mencocokkan data dibuku laporan dengan dokternya siapa, apa yang dilakukan terhadap pasien tadi dan sebagainya.
Setiap pasien rawat inap mendapatkan hak untuk dimandikan kecuali pasien yang masih bisa mandi sendiri atau keluarganya memang meminta untuk melakukanya sendiri. Saatnya minum obat pasien dibawakan dan diminumkan obatnya. Setiap pagi tempat tidur dibersihkan kembali, meja dilap. Pengontrolan cairan infus dilakukan secara intensif, berapa tetes per menit sesuai perintah Dokter, tidak sampai menunggu pasien yang laporan, bahwa cairan sudah habis, apalagi sampai kehabisan. Kalaupun perawat kebetulan dinas atau jaga malam, bisa dipastikan perawat ada ditempat jaganya kecuali pasien-pasien yang dirawat hanya sedikit atau tidak gawat, kalaupun mengantuk bisa tidur bergantian, tidak sampai ruang jaga kosong dari seorang perawat yang memang terjaga ( tidak tidur ). Dedikasi itu masih terasa di Rumah Sakit-Rumah Sakit tersebut. Tetapi untuk saat ini, pelayanan keperawatan secara menyeluruh seperti itu sering terabaikan. Padahal sentuhan-sentuhan kecil itulah yang menjadi dambaan para pasien untuk dapat mempercepat penyembuhannya dan juga mendapatkan rasa kenyamanan.Ketika dia menjalani rawat inap di rumah sakit.
Contoh Kasus
Ketika menjenguk teman di sebuah RSUD, keadaan pasien dengan deabitus militus (kencing manis), kondisi gula drop (38 ml yang normalnya I20 ml) infusnya tidak menetes karena posisi pasien tidak mau terlentang, keadan fisik shock, tidak bisa bicara, lemas dan mata sayu. Ketika keluarganya kita tanya bagaimana ini? Infusnya kok tidak menetes? Kata perawat tidak apa-apa. Kita lantas minta tolong agar infus dibetulkan, jawab perawat: “Tidak apa-apa”. Lho, infus tidak menetes kok tidak apa-apa, akhirnya perawat dengan muka monyong mau membetulkan juga. Setelah selesai dibetulkan infusnya dan cairan menetes lagi, dalam waktu hanya I5 menit digrojok cairan, pasien langsung sadar, bisa tersenyum, bahkan bisa bicara, wajah langsung tampak hidup. Padahal si pasien dari kalangan berpendidikan, bagaimana dengan pasien miskin yang tidak mengerti apa-apa?, juga bagi pasien yang menggunakan kartu GAKIN ? Dalam hal ini nyawalah taruhannya.
Contoh lain
Disebuah Rumah Sakit swasta ketika seorang guru SMA mengantar anak sekolah yang baru kecelakaan keadaanya kritis. Ketika minta tolong untuk segera dibantu ditangani karena mobil yang mengantar adalah mobil pinjaman, ternyata perawat hanya mengatakan: “Bawa langsung ke Rumah Sakit Kota”. Padahal pertolongan pertama seharusnya dilakukan. Pertama diinfus atau lukanya dilihat, kalau mengalami pendarahan bisa dihentikan sementara atau perlu diberi O2, minimal pasien bisa diberikan pertolongan sementara, baru kalau tidak mampu dipersiapkan untuk dirujuk ke Rumah Sakit yang lebih besar.
Contoh lain
Sebuah Rumah Sakit swasta yang baru dibuka ditingkat kabupaten, ada pasien seorang anak sakit typus, ketika ibunya terbangun dan melihat inpus ditangan anaknya terlepas dengan darah membasahi baju, celana, selimut, karena darah si anak keluar melalui jarum infus, keadaan sambungannya terlepas anak dalam keadaan panas tinggi, ditambah darahnya yang keluar kurang lebih 0,5 liter, keadaanya makin membahayakannya, padahal disitu pasien penuh, hampir 80% pasien dalam keadaan diinpus, banyak pasien yang cairan infusnya habis, tapi perawat semua tidur lelap. Hal itu tentu takkan terjadi bila mereka menyadari tanggungjawab bahwa mereka itu jaga malam sudah seharusnya untuk siaga, kalau waktu dirumah untuk tidur agar pasiennya tidak terlantar di waktu malam.
Contoh lain
“Ayo terus mengejan, yah........... nafas dulu”, itulah bahasa-bahasa yang sering terdengar dari seorang bidan yang membantu proses persalinan, sambil di elus punggungnya. Tapi zaman sekarang sering seorang wanita yang mau melahirkan terpaksa menyepat alat-alat persalinan, yang disiapkan dibawahnya. Karena bayi sudah mau keluar, tapi bidanya belum juga mendampingi di sisinya. Krompyang....... suara alat-alat yang berjatuhan ke lantai........ Wallahu alam bisawab, itulah kondisi pelayanan kesehatan saat ini.
Dari 4 Contoh diatas adalah betul-betul pengalaman nyata. Walau tidak semua perawat lulusan akademi kurang konsisten terhadap tugas-tugas keperawatannya, tetapi dapat dibayangkan, bila masyarakat yang seharusnya mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik justru dirugikan oleh keteledoran beberapa oknum. Memang manusia diwajibkan untuk berusaha, adapun hidup mati seseorang ditangan Allah SWT. Mungkin akan lebih banyak nyawa yang tertolong, bila tugas keperawatan dilaksanakan dengan penuh dedikasi. Wallahu allam bisawab.
Tulisan ini di persembahkan untuk seluruh perawat paramedis yang penuh tanggungjawab dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam pekerjaannya. Di pundakmu terletak sebuah harapan hidup seseorang dan pengabdianmu yang tulus ikhlas hanya Allah SWT yang akan membalasnya, yaitu surga Jannatun Naim.
Penulis:
Mantan Bidan,
Pengurus Majelis Kesehatan Muhamadiyah
Sumberrejo-Bojonegoro Jawa Timur
Apa salah dan dosanya “POLIGAMI’?
About Sosial
Oleh. M Danial Bustomi
Saat ini gempar-gemparnya orang membicarakan tentang pernikahan kedua Aa Gym(Abdullah Gymnastiar). Kontroversi POLIGAMI kembali dibicarakan, mulai dukung mendukung, kutuk-mengutuk, caci maki dan banyak lagi yang lainnya. Para ibu-ibu yang dulunya ‘ngefans’ berat sama Aa Gym, kini mulai mengutuk dan membenci Aa Gym, kayaknya Aa Gym adalah orang yang paling tidak tahu diri. “ Kok bisa-bisanya seorang yang banyak dikagumi oleh banyak orang tega melakukan poligami? Mengapa Aa Gym tega-teganya menyakiti hati teh Ninih (Ninih Mutmainnah)? Apa kurangnya teteh? Sudah baik, banyak mendukung Aa dan menemani Aa dalam suka dan duka. Apa coba kurangnya?”. Protes para Ibu-ibu yang merasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh Da’i kondang tersebut. Negarapun tidak hanya tinggal diam, Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pun merapatkan hal ini juga ditingkatan nasional, seolah-olah Poligami adalah suatu urusan negara yang amat mendesak. Sedangkan para suami dan hidung belang yang melakukan selingkuh tidak ditindak, bahkan mereka tersenyum sambil mengatakan ke istrinya “Lihat..!!! Aa Gym aja poligami, masak Bapak tidak diijinkan sih, Ma?”. Tidak kalah hebohnya, pertelevisian kitapun sibuk menayangkan Pro dan Kontra Pernikahan tersebut. Yah... itulah fenomena kehidupan masyarakat kita saat ini. Mungkin banyak hal yang perlu kita pelajari dalam fenomena ini.
Pertama, Aa’ Gym juga Manusia. Mungkin kita lupa, bahwa `Aa Gym juga manusia biasa, dia memiliki yang namanya Nafsu, Syahwat dan keinginan. Mungkin jika para wanita mau bertanya dan para lelaki mempunyai keberanian untuk jujur, maka semua akan mengakui jika dia ingin memiliki istri kedua, ketiga, dan seterusnya. Hanya saja mereka punya banyak alasan yang membuat mereka tetap setia dengan satu istri saja. Dengan alasan, Tidak mampu untuk menafkahi, tidak mampu berbuat adil, tidak mampu membagi cinta dan bisa juga karena tidak ingin menyakiti perasaan istri yang setia dan banyak lagi alasan yang lainnya.
Kedua, perbandingan Laki-laki dan perempuan saat ini di Indonesia sudah mencapai 1 banding 9. Mungkin kita adalah orang yang paling risih dengan yang namanya Pelacur walaupun dengan berbagai alasan. Tapi... pernahkah kita berfikir, untuk saat ini saja, satu lelaki punya perbandingan dengan sembilan perempuan. Lalu jika semua perempuan dinegeri ini tidak ingin di`madu` dan kita menolak yang lainnya untuk melacurkan diri, apa solusi yang kita punya untuk mereka? Apa kita minta mereka menjomblo aja sampai tua? sedangkan mungkin mereka ingin juga seperti perempuan-perempuan lainnya yang dapat menyandang gelar sebagai seorang ISTRI, sehingga sering kita dengar yang namanya Nikah Sirri, Istri Simpanan dan banyak lagi yang lainnya. Mau dikemanakan delapan Orang yang lainnya? Mereka juga bagian dari para wanita yang ingin dianggap dan diterima kehadirannya. Tidakkah kita harus menyadari akan hal itu?
Ketiga, ZINA. Saat ini kita biasa dengar yang namanya TTM [Teman Tapi Mesum], SETIA [Selingkuh Tiada Akhir] dan banyak lagi kata-kata yang dibuat untuk mengisyaratkan suatu keinginan akan suatu hasrat. Sebagaimana yang dialami salah seorang anggota DPR kita yang terhormat, dia terpaksa harus mengakhiri karirnya di senayan hanya karena adanya adegan mesumnya dengan seorang penyanyi dangdut. Ini juga harus kita lihat dari banyak sisi kemanusiaanya. Dipihak suami mungkin mempunyai keyakinan kalau istrinya tidak mungkin merestui jika dia harus dimadu dengan wanita lain, maka Sang Anggota dewanpun mengambil jalur pintas dengan melakukan diluar jalur pernikahan. kita juga harus melihat mengapa sang penyanyi dangdut tersebut mengekspos adegan tersebut ke khayalak umum? bisa jadi adanya keinginan untuk dapat status resmi sebagai Istri dari anggota DPR tersebut. Sehingga, betapa sulitnya untuk dapat menghindari hal-hal seperti ini, dan seharusnya wajar saja kalo `Aa Gym menikah lagi dengan meminta ijin Istri yang dicintainya dengan berbagai alasan yang kita tidak bisa hanya dengan menduga-duga saja. Sebaliknya, Sang anggota DPR saat ini pasti merasa malu dan merasa tidak layak sebagai panutan. Hal itu pula akan menggangu kenyamanan hidup istri dan anak-anaknya dimasyarakat.
Keempat, Tentang keadilan. Saat ini para wanita takut akan adanya `madu` dalam pernikahannya dengan alasan Keadilan. Mungkin kita harus bisa membedakan keadilan dengan pemerataan. Pemerataan itu lebih bersikap serba sama, misalnya Istri pertama minta Mobil BMW, maka Istri kedua Juga harus sama. Namun jika keadilan itu lebih bersifat menurut kebutuhan, misalkan Istri Pertama membutuhkan baju ukuran XL karena dia merasa lebih gemuk atau lebih tinggi dan istri kedua yang lebih kurus tidak mungkin juga diberi baju dengan ukuran yang sama, maka istri kedua wajar jika hanya mendapatkan baju ukuran L saja. Jadi keadilan itu menurut porsi kebutuhannya.
Kelima, Tentang Cemburu. Adanya kecemburuan itu wajar dalam rumahtangga, sifat itu memang telah diberikan oleh Allah kepada semua manusia dari zaman Adam hingga kiamat nantinya. Sifat yang lumrah ini terkadang menjadi pemicu akan keretakan rumahtangga. Jangankan dalam rumahtangga, dalam kehidupan sehari-hari saja hal ini sangat mendominasi. Namun jika kita bisa memenej kecemburuan dalam rumahtangga maka hal itu akan menjadi bumbu yang indah dalam mengarunginya. Para istri Rosullulah saja memiliki sifat cemburu dan itupun dianggap wajar oleh Rosullulah. Merekapun dapat menjaga dan mengendalikan hal tersebut, karena istri-istri Rosullulahpun Manusia biasa.
Namun hal ini bukan berarti Para lelaki dan suami bisa melakukan atau melegalkan hal ini seenak hatinya sendiri. Kita juga harus menilik kepada Agama dan kepercayaan kita (Iman). Jika kita merasa mampu dan kita siap dengan semua konsekuensinya dalam lahir dan batin maka tidaklah hal itu bisa dipersalahkan, namun jika kita melakukannya hanya berlandaskan nafsu dan syahwat saja, maka cobalah untuk menghindari hal ini, mengingat suatu pernikahan bukanlah suatu tanggungjawab didunia saja, namun suatu bentuk bangunan Mahligai di Akhitar kelak.
Aa Gym hanyalah seorang manusia biasa, begitupula dengan Teh Ninih. Jadi wajarlah jika Aa Gym menikah lagi, jika dia merasa mampu untuk berbuat adil dan bisa membahagiakan keduanya serta siap untuk mempertanggungjawabkannya kelak. Apalagi kita ini hanyalah para penonton bagi rumah tangga mereka, kita tidaklah tahu ukuran kemampuan Aa Gym dalam membangun mahligai tersebut. Biarlah waktu yang akan mengajarkan kita akan arti Poligami, lagi pula kita tidak bisa mengadili mereka hanya karena suatu pernikahan yang diperbolehkan oleh Agama, Karena Poligami yang dianggap Aib dan hal tabu itu sebenarnya solusi terbaik yang diberikan oleh Allah, demi keselamatan hamba-Nya didunia saat ini maupun diakhirat kelak. Semoga hal ini dapat menjadi renungan bagi kita semua. Wallahu `Alamu Bisshowab.
Saat ini gempar-gemparnya orang membicarakan tentang pernikahan kedua Aa Gym(Abdullah Gymnastiar). Kontroversi POLIGAMI kembali dibicarakan, mulai dukung mendukung, kutuk-mengutuk, caci maki dan banyak lagi yang lainnya. Para ibu-ibu yang dulunya ‘ngefans’ berat sama Aa Gym, kini mulai mengutuk dan membenci Aa Gym, kayaknya Aa Gym adalah orang yang paling tidak tahu diri. “ Kok bisa-bisanya seorang yang banyak dikagumi oleh banyak orang tega melakukan poligami? Mengapa Aa Gym tega-teganya menyakiti hati teh Ninih (Ninih Mutmainnah)? Apa kurangnya teteh? Sudah baik, banyak mendukung Aa dan menemani Aa dalam suka dan duka. Apa coba kurangnya?”. Protes para Ibu-ibu yang merasa kecewa dengan sikap yang diambil oleh Da’i kondang tersebut. Negarapun tidak hanya tinggal diam, Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pun merapatkan hal ini juga ditingkatan nasional, seolah-olah Poligami adalah suatu urusan negara yang amat mendesak. Sedangkan para suami dan hidung belang yang melakukan selingkuh tidak ditindak, bahkan mereka tersenyum sambil mengatakan ke istrinya “Lihat..!!! Aa Gym aja poligami, masak Bapak tidak diijinkan sih, Ma?”. Tidak kalah hebohnya, pertelevisian kitapun sibuk menayangkan Pro dan Kontra Pernikahan tersebut. Yah... itulah fenomena kehidupan masyarakat kita saat ini. Mungkin banyak hal yang perlu kita pelajari dalam fenomena ini.
Pertama, Aa’ Gym juga Manusia. Mungkin kita lupa, bahwa `Aa Gym juga manusia biasa, dia memiliki yang namanya Nafsu, Syahwat dan keinginan. Mungkin jika para wanita mau bertanya dan para lelaki mempunyai keberanian untuk jujur, maka semua akan mengakui jika dia ingin memiliki istri kedua, ketiga, dan seterusnya. Hanya saja mereka punya banyak alasan yang membuat mereka tetap setia dengan satu istri saja. Dengan alasan, Tidak mampu untuk menafkahi, tidak mampu berbuat adil, tidak mampu membagi cinta dan bisa juga karena tidak ingin menyakiti perasaan istri yang setia dan banyak lagi alasan yang lainnya.
Kedua, perbandingan Laki-laki dan perempuan saat ini di Indonesia sudah mencapai 1 banding 9. Mungkin kita adalah orang yang paling risih dengan yang namanya Pelacur walaupun dengan berbagai alasan. Tapi... pernahkah kita berfikir, untuk saat ini saja, satu lelaki punya perbandingan dengan sembilan perempuan. Lalu jika semua perempuan dinegeri ini tidak ingin di`madu` dan kita menolak yang lainnya untuk melacurkan diri, apa solusi yang kita punya untuk mereka? Apa kita minta mereka menjomblo aja sampai tua? sedangkan mungkin mereka ingin juga seperti perempuan-perempuan lainnya yang dapat menyandang gelar sebagai seorang ISTRI, sehingga sering kita dengar yang namanya Nikah Sirri, Istri Simpanan dan banyak lagi yang lainnya. Mau dikemanakan delapan Orang yang lainnya? Mereka juga bagian dari para wanita yang ingin dianggap dan diterima kehadirannya. Tidakkah kita harus menyadari akan hal itu?
Ketiga, ZINA. Saat ini kita biasa dengar yang namanya TTM [Teman Tapi Mesum], SETIA [Selingkuh Tiada Akhir] dan banyak lagi kata-kata yang dibuat untuk mengisyaratkan suatu keinginan akan suatu hasrat. Sebagaimana yang dialami salah seorang anggota DPR kita yang terhormat, dia terpaksa harus mengakhiri karirnya di senayan hanya karena adanya adegan mesumnya dengan seorang penyanyi dangdut. Ini juga harus kita lihat dari banyak sisi kemanusiaanya. Dipihak suami mungkin mempunyai keyakinan kalau istrinya tidak mungkin merestui jika dia harus dimadu dengan wanita lain, maka Sang Anggota dewanpun mengambil jalur pintas dengan melakukan diluar jalur pernikahan. kita juga harus melihat mengapa sang penyanyi dangdut tersebut mengekspos adegan tersebut ke khayalak umum? bisa jadi adanya keinginan untuk dapat status resmi sebagai Istri dari anggota DPR tersebut. Sehingga, betapa sulitnya untuk dapat menghindari hal-hal seperti ini, dan seharusnya wajar saja kalo `Aa Gym menikah lagi dengan meminta ijin Istri yang dicintainya dengan berbagai alasan yang kita tidak bisa hanya dengan menduga-duga saja. Sebaliknya, Sang anggota DPR saat ini pasti merasa malu dan merasa tidak layak sebagai panutan. Hal itu pula akan menggangu kenyamanan hidup istri dan anak-anaknya dimasyarakat.
Keempat, Tentang keadilan. Saat ini para wanita takut akan adanya `madu` dalam pernikahannya dengan alasan Keadilan. Mungkin kita harus bisa membedakan keadilan dengan pemerataan. Pemerataan itu lebih bersikap serba sama, misalnya Istri pertama minta Mobil BMW, maka Istri kedua Juga harus sama. Namun jika keadilan itu lebih bersifat menurut kebutuhan, misalkan Istri Pertama membutuhkan baju ukuran XL karena dia merasa lebih gemuk atau lebih tinggi dan istri kedua yang lebih kurus tidak mungkin juga diberi baju dengan ukuran yang sama, maka istri kedua wajar jika hanya mendapatkan baju ukuran L saja. Jadi keadilan itu menurut porsi kebutuhannya.
Kelima, Tentang Cemburu. Adanya kecemburuan itu wajar dalam rumahtangga, sifat itu memang telah diberikan oleh Allah kepada semua manusia dari zaman Adam hingga kiamat nantinya. Sifat yang lumrah ini terkadang menjadi pemicu akan keretakan rumahtangga. Jangankan dalam rumahtangga, dalam kehidupan sehari-hari saja hal ini sangat mendominasi. Namun jika kita bisa memenej kecemburuan dalam rumahtangga maka hal itu akan menjadi bumbu yang indah dalam mengarunginya. Para istri Rosullulah saja memiliki sifat cemburu dan itupun dianggap wajar oleh Rosullulah. Merekapun dapat menjaga dan mengendalikan hal tersebut, karena istri-istri Rosullulahpun Manusia biasa.
Namun hal ini bukan berarti Para lelaki dan suami bisa melakukan atau melegalkan hal ini seenak hatinya sendiri. Kita juga harus menilik kepada Agama dan kepercayaan kita (Iman). Jika kita merasa mampu dan kita siap dengan semua konsekuensinya dalam lahir dan batin maka tidaklah hal itu bisa dipersalahkan, namun jika kita melakukannya hanya berlandaskan nafsu dan syahwat saja, maka cobalah untuk menghindari hal ini, mengingat suatu pernikahan bukanlah suatu tanggungjawab didunia saja, namun suatu bentuk bangunan Mahligai di Akhitar kelak.
Aa Gym hanyalah seorang manusia biasa, begitupula dengan Teh Ninih. Jadi wajarlah jika Aa Gym menikah lagi, jika dia merasa mampu untuk berbuat adil dan bisa membahagiakan keduanya serta siap untuk mempertanggungjawabkannya kelak. Apalagi kita ini hanyalah para penonton bagi rumah tangga mereka, kita tidaklah tahu ukuran kemampuan Aa Gym dalam membangun mahligai tersebut. Biarlah waktu yang akan mengajarkan kita akan arti Poligami, lagi pula kita tidak bisa mengadili mereka hanya karena suatu pernikahan yang diperbolehkan oleh Agama, Karena Poligami yang dianggap Aib dan hal tabu itu sebenarnya solusi terbaik yang diberikan oleh Allah, demi keselamatan hamba-Nya didunia saat ini maupun diakhirat kelak. Semoga hal ini dapat menjadi renungan bagi kita semua. Wallahu `Alamu Bisshowab.

